Semangat Kartini di Pantai Kuta

Untuk seorang Wayan Kondri, nama R.A. Kartini mungkin tidak terlalu familiar. “Saya pernah dengar, tapi saya tidak terlalu paham,” tuturnya sambil sesekali memungut puntung rokok yang tergeletak di pinggir pantai Kuta.

Untuk seorang Wayan Kondri, nama R.A. Kartini mungkin tidak terlalu familiar. “Saya pernah dengar, tapi saya tidak terlalu paham,” tuturnya sambil sesekali memungut puntung rokok yang tergeletak di pinggir pantai Kuta. Wanita berusia 48 tahun ini bahkan tidak pernah merasakan duduk di bangku SD, apalagi menyempatkan diri untuk belajar tentang sejarah perjuangan seorang wanita.

Merupakan penduduk asli Kuta, Wayan adalah Ibu tunggal dari dua orang anak yang masih duduk di bangku sekolah. Sebagai seorang Ibu, Wayan tidak mau dianggap lemah dan tidak berguna oleh orang-orang disekitarnya. Hal ini dibuktikan dengan terus bersemangatnya Wayan dalam menghidupi keluarganya setelah ditinggal wafat oleh sang suami. “Kalau menurut saya, wanita yang hebat adalah wanita yang bisa merubah kesedihannya menjadi semangat yang dapat membahagiakan orang–orang dan lingkungan di sekitarnya,” tutur Wayan.

Pada tahun 2010, ia bergabung dengan tim Bali Beach Clean Up, yang merupakan program CSR dariCoca-Cola Amatil Indonesia dan Quiksilver Indonesia. Bersama 15 orang lainya yang juga merupakan penduduk asli Kuta, setiap pagi pukul 07:00 WITA Wayan mulai membersihkan pantai Kuta. “Membersihkan pantai di pagi hari memberi dua manfaat bagi saya, yaitu olah raga dan rasa bangga turut ikut berperan aktif dalam menjaga kebersihan pantai di mana dulu saya hanya bisa memandang sedih saat pantai terlihat sangat kotor,” cerita Wayan.

Wisatawan yang berkunjung ke pantai Kuta tidak hanya wisatawan mancanegara saja, namun juga wisatawan lokal, “Dari pengalaman saya sebagai anggota Coca-Cola Bali Beach Clean Up, wisatawan lokal cenderung lebih sering membuang sampah sembarangan dibandingkan wisatawan asing. Maka pesan saya untuk semua wisatawan lokal, tolong ingat kembali indahnya pantai ini tanpa sampah-sampah yang berserakan,” ujar Wayan.

Di luar aktivitasnya sebagai anggota Bali Beach Clean Up, Wayan menawarkan jasanya untuk memijat wisatawan yang kelelahan setelah berjalan kaki di sepanjang pantai. Namun pemasukan secara material dari usaha jasa memijatnya tidak cukup untuk membiayai dua orang anaknya. Jadi Wayan melakukan suatu hal yang sangat kreatif di saat ia menawarkan jasa memijatnya yaitu membuat paket pijat dengan minuman dingin. “Saya biasanya bilang sama mereka, ‘One hour massage only 50.000 Rupiah and you can get one bottle Coke very cold’. Jadi sambil dipinjat tamunya bisa menikmati minuman dingin di tepi pantai,” ujar Wayan dengan bahasa Inggris campur Indonesia yang kental dengan logat khas Bali.