Untuk Kedua Kalinya, Coca-Cola Amatil Indonesia Memberikan Kinerja Terbaik Kepada Para Peritel

Peran peritel dalam rantai distribusi produk dari produsen hingga ke konsumen makin besar. Tak hanya sebagai point of sale, prinsipal makin menyadari fungsi peritel sebagai agen komunikasi merek dengan shopper. Peritel yang puas bahkan bisa menjadi evangelist brand.

Peran peritel dalam rantai distribusi produk dari produsen hingga ke konsumen makin besar. Tak hanya sebagai point of sale, prinsipal makin menyadari fungsi peritel sebagai agen komunikasi merek dengan shopper. Peritel yang puas bahkan bisa menjadi evangelist brand. Tahun ini, untuk kedua kalinya Coca-Cola Amatil Indonesia terbukti berhasil memberikan servis yang memuaskan kepada para peritel, terbukti dari hasil Indonesia Retailers Satisfaction Award 2013, yang dipublikasikan oleh Majalah MIX-Marketing Communication bekerjasama dengan QASA Strategic Consulting. Coca-Cola Amatil Indonesia meraih indeks kepuasan tertinggi peritel dalam dua kategori; Jus (Minute Maid Pulpy Orange), dan Isotonik (Powerade Isotonik). Penghargaan ini diterima oleh Amrapel Situmorang, Regional Sales Director West Java, di Thamrin Nine Ballroom, 23 Juli 2013.

‘Keputusan pengecer tentang merek dari produsen dapat mempengaruhi kinerja merek (Buchanan et al., 1999)’. Pernyataan ini mencerminkan realitas baru yang dihadapi para produsen consumer good. Hal inilah yang berusaha diungkapkan MIX dalam Rubrik Utama mereka yang berjudul, ‘Brand Advocacy by Retail Salespeople.’ Tenaga penjual di pengecer memainkan peran yang sangat penting dalam mempengaruhi pilihan dan keputusan pembelian konsumen. Kepuasan peritel tercipta dari hubungan yang kuat antara produsen dengan para peritel. Ketika peritel puas terhadap layanan distributor, tidak menutup kemungkinan mereka akan membantu mempromosikan atau menawarkan merek tersebut secara aktif kepada konsumennya.

Untuk mengetahui sejauh mana tingkat kepuasan para peritel di Indonesia terhadap layanan yang diberikan oleh pemilik merek, selama bulan Mei 2013, survei diadakan di 1.435 peritel (toko eceran, warung belanja, kios rokok, dan grosir) yang tersebar di tujuh kota besar di Indonesia, Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar. Tiga variabel yang diukur dalam survei ini adalah produk, servis, dan support prinsipal untuk promosi di toko. Metode yang digunakan adalah Stratified Method Sampling.